13 Februari 2011

biarkan begini dulu saja

Gelapnya langit mempertemukan perempuan dan laki-laki itu di suatu waktu, saling melempar pandang sekilas, si tuan bahkan tidak menyempatkan diri turun dari kuda besi yang ia kendarai, namun si nona tak mau ambil pusing kemudian segera mengambil tempat di bagian belakang jok si tuan. Berdua membelah jalanan malam ditemani angin yang berhembus agresif, obrolan basa-basi menyertai mereka, kaku, berjarak, tidak seperti biasanya. Ada perasaan mendalam ketika perempuan itu memandangi punggung laki-laki di depannya, perempuan itu tersenyum kecil--menyadari riak kecil dalam dirinya. Aku rindu sekali padamu, bisiknya lebih kepada dirinya sendiri.

Ketika keadaan mengharuskan mereka duduk berhadapan, wajah ketemu wajah, tidak mungkin tidak bicara... Meluncur kembali pembicaraan basa-basi dari bibir keduanya, si nona menahan diri untuk tidak kembali ke topik itu, topik lama yang menumbuhkan jarak diantara mereka, susah payah, terpatah-patah, menyeret keduanya ke topik yang semula dihindari. Tapi anehnya kali ini tidak ada argumen, tidak pula emosi apalagi "pakeukeuh-keukeuh", pertanyaan dan jawaban mengalun ringan sesekali terselip sanggahan yang malah membuat si tuan dan si nona tertawa bersama. Beginilah seharusnya. Tidak seperti tiga malam lalu, di tempat yang berbeda mungkin masing-masing dari mereka ingin membanting ponsel dan mengenyahkan keberadaan satu sama lain.

Perempuan itu berhasil. berkompromi dengan hati dan otaknya, ia telah membuat kesepakatan, yang baik.

Waktu perlahan bergesar, si tuan mencoba meraih tangan si nona ke dalam genggamannya, si nona menyambutnya dengan ragu, namun si tuan meyakinkannya dengan genggaman yang erat dan pasti. semua tampak membaik--sesudahnya. Tak mau berpikir yang lainnya... biarkan semua begini dulu saja. (12.02.11)


terjebak

Saya gusar..terjebak dalam ribuan kalimat sumpah serapah yang dipaksa untuk masuk ke dalam pikiran saya. Saya dijejali ketidak mengertian yang banyak sekali...banyak sekai. sampai akhirnya saya merasa lelah dan enggan mencari lagi sebuah fakta yang saya yakini benar adanya.

Bibir bisa bicara apapun yang ia mau, tapi tidak ada yg bisa mendeteksi benar tidaknya serentetan kalimat yang keluar darinya, saya nggak tau bagaimana mengendalikan keyakinan ini, saya yakin benar saya benar.

Saya ditertawakan, saya dicibir, saya dipandang sebelah mata, saya dikira sok tahu, saya di cap pembohong. Mungkin.

Saya gusar setengah mati, saya dipermainkan oleh apa? oleh siapa? saya sendiri ? atau kamu ? atau waktu ? atau suatu masa?

Saya ingin sekali tau, tapi saya capek mencari tau. bingung-bingung saya seperti orang ling lung, memutar kembali memori di dua malam kemarin yang masih lekat di ingatan saya. ah...seandainya pensive (alat untuk menyimpan memori yang ingin disimpan dan bisa dikaji ulang kapanpun si empunya mau - hanya ada di kecanggihan dunia Harry Potter- ) itu benar-benar ada, saya mau memilikinya!

saya tidak mau jadi gila memikirkannya, tapi saya penasaran. siapa yang bisa memberi tau? siapa yang mau membantu? saat itu dan saat ini pun saya cuma sendiri, jika saya tetap percaya pada apa yg saya lihat, mungkin mereka berpikiran mengantar saya ke psikiater. Aaaarrghhh.....saya mau percaya kalau saya salah, hanya saja itu bertentangan dengan sesuatu dalam diri saya.

the other world


Malam lalu, saya berbincang dengan seorang teman, sama kaya nya dengan saya karena kami sama-sama memiliki "the other world". Dalam sebuah perbincangan di dunia maya, inilah isi obrolan kami :

Saya : "Apa kabar penghuni "the other world" kamu hey, tuan ?"

Dia : "Masih kelam, sayangnya"

Saya: "Apakah kamu berpikir seperti yg saya pikir?"

Dia: "Apa itu?"

Saya: "Bahwa kita berada dalam satu teritori....The other world saya kelam, begitu juga dengan kamu"

Dia: "Begitu kah?"

Saya: "ya... disini kelam, dingin, semua abu-abu"

Dia: "Tapi susah ya untuk menolak masuk kesana"

Saya: "Saya malas disini, tapi enggan kesana hehehe"

............. ................ .............. .................. .....................

Kami pun terdiam lama, sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin dia sedang disana, tapi saya berusaha untuk tetap disini. Kami berdua butuh energi. Energi positif. hanya saja tidak mudah mencari energi positif di malam itu.

Hening. hingga akhirnya saya berpamitan, karena raga teramat lelah, begitu juga dengan jiwa...