16 Januari 2012

It's (still) Nu Year

Happy New Year, yaaay!!

Sudah lewat hampir setengah bulan dari tanggal 1, dan dihitung-hitung sudah 3 bulan lamanya saya gak nengokkin blog ini, gak saya lirik sama sekali, hampir saya peti es-kan (lagi). Banyak cerita terpaksa menguap begitu saja. Saya hanya gak mau, membagi cerita murung yang selalu mampir di hidup saya ke kamu.
Beberapa waktu yang lalu saya marah, pada dirinya, pd diri saya sendiri karena saya membiarkan dia menyakiti hati saya, menyayatnya, mencabik-cabiknya, hingga saya lupa bagaimana bentuk awalnya sebelum dia torehkan kata-kata yg melukai dinding jiwa saya hingga rapuh, keropos di dalam. Tapi, sekarang gak ada. Gak ada lagi dia, gak ada lagi kita. Saya bingung, harus merasa senang atau sedih..namun yang pasti saya lega. Luar biasa lega. Gak ada lagi air mata, semua sudah habis, sudah surut dari berbulan-bulan yang lalu. Saya lelah, sudah teramat lelah.
Saya hanya ingin menjalani hidup apa adanya, sesuai yang ada di depan mata, sesuai dengan jalan yang membentang di hadapan. Sesekali saya memang bertemu dia, berpapasan di satu jalan yang sedang saya tapaki. Di lain waktu dia berlari-lari mendahului kemudian terhenti begitu lama dan membuat saya meninggalkan dia. Saya punya tujuan, saya punya beberapa tujuan akhir dari perjalanan saya menyusuri jalan-jalan setapak yang membentang, meski kerap kali saya kehilangan petunjuk juga puluhan kali tersesat, saya masih punya tujuan, saya masih memegang tujuan itu.
Saya hanya bisa tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala, melihat dia masih menggunakan metode yang sama. sekali waktu dia bergerak cepat namun juga terlalu lama berisitirahat. Saya gak bisa hidup ala dia. Saya gak bisa mengerti dia, inginnya, ambisinya, jiwanya, mimpi-mimpi dan cita-citanya, egonya, marahnya, dendamnya.
Saya sedang ingin berjalan sendiri, sedang tidak perlu ditemani..butuh teman tapi tidak untuk menemani. Saya sedang ingin diam, mendengarkan keheningan diluar dan didalam. menatap dan mengamati, bersemangat dan menyemangati, diri sendiri.
Saya sudah selesai. Saya sudah terlalu lama berdiam disini, disebuah tempat yg awalnya hanya saya niatkan untuk transit, persinggahan sementara. Saatnya saya beranjak, dan meneruskan perjalanan yang masih sangat panjang. Sampai Jumpa diujung jalan, teman :)

25 September 2011

Ini lagi dan ini lagi. selalu lagi, berulang kali berulang lagi.

Bingung ya? saya juga bingung mau nulisnya, saya peduli karena itu menyangkut saya, wajar dong..setiap orang pasti punya sifat keakuan. Tapi, ketika kita menjadi berdua, semua urusan tak lagi soal diri sendiri, seyogyanya sih..apa-apa didiskusikan, dirembuk, dikomunikasikan, karena satu hal, pasti --mau tak mau-- tersangkut paut dengan hal lainnya. Mau gak mau, hal yang menyangkut soal kita, berpengaruh pada soal kami. Itu ketika kita tak lagi sendiri.
Masalahnya... siapkah kamu dengan kondisi itu? kondisi yang lagi-lagi mau gak mau pasti kamu temui. Yang mungkin awalnya tidak menganggu, namun seiring berjalannya waktu menjadi semacam duri dalam daging ? salah satu konsekuensi ketika kita memilih berpasangan alih-alih hidup sendirian. Seperti yg saya bilang tadi -dan saya tegaskan lagi-, semua hal tak melulu soal kamu sendiri saja.
Kamu paham ? ketika saya bilang, "menurut saya, kamu tuh punya pasangan karena kamu mau, bukan karena kamu butuh", kala itu kamu hanya diam saja, kamu ngerti? atau kamu diam karena menghindari perdebatan yang tidak pernah ada jalan keluarnya seperti yg sudah-sudah?.
Saya capek marah-marah, saya udah malas dan gak bersemangat soal apapun yang menyangkut saya dan kamu. Saya pikir...kamu hanya butuh diri kamu sendiri.
Saya gak peduli lagi, sama apa yang terjadi sebenarnya. Saya gak lagi peduli sama apa yang kamu bilang pada mereka, soal kita, saya pun gak peduli sama apa yg kamu bilang ke saya, mana yang saya percayai, mana yang benar, atau apakah semua itu tadi adalah soal yg sama atau tidak.
Ketika saya mulai penuh dengan pertanyaan soal kamu, soal kita, apa masalahnya. saya ingin berlalu, jauh. saya gak merasa punya kewajiban untuk memenuhi tuntutan bercerita meskipun selama ini, itulah yg selalu kamu tuduhkan, bahwa saya terlalu mengeluh pd orang lain soal kita, bahwa saya menjelek-jelekkan kamu.
Kamu gak pernah tahu, bahwa hal yg tampak remeh seperti menunggu itu bisa merusak hari dan perasaanmu. waktu tidak menunggu, ia terus berjalan, dan saya sudah membuang-buang begitu banyak waktu untuk menunggu kamu.
Kini, saya sudah teramat kelelahan, keseringan menunggu, menunggu kamu. saya gak sanggup lagi berkompromi dengan kebiasaan jelekmu yang satu itu, yg kerap dan selalu bikin saya lesu. Saya pun sudah sampaikan, marah pun saya malas, sudahlah...

Kemudian hari ini dan kemarin kamu menghilang, pergi, menjauh, menghindar dalam diam.

Saya ingat kamu teriakkan emosimu lewat sebuah pesan singkat ke ponsel saya dua hari yang lalu. "saya merasa terkekang, saat saya bersama mereka di luaran sana, kamu tau? saya merasa kamu kejar-kejar!"

Saya mengerti. ketika sesuatu harus berakhir, tak perlu pikirkan apapun lainnya. Saya mengerti dengan baik.




14 September 2011

Rindu

Saya rindu, semacam rindu sama masa lalu. Ketika masih ada kalian dan belum ada kamu. Saya rindu bersama mereka, bercerita, menggila, dan semacamnya.

Saya rindu ketika hidup belum sebegini kompleksnya, sesekali saya ingin kembali kesana, di masa ketika saya merasa masih sangat belia.

Saya rindu bersua, bercanda, bersama kalian. Di tempat itu, di tempat yang kita suka, membicarakan soal mimpi dan harapan-harapan kita. Menikmati malam-malam dingin di kota Paris van Java.

Saya rindu saat kita disibukkan oleh teori-teori dan tugas-tugas kuliah, melepas lelah dengan berbagi secangkir dua cangkir kopi di pelataran kampus, bangku panjang favorit kita.

Saya rindu itu semua, rindu kalian, rindu "kita"