01 November 2012

Stay Away

Berapa hari ini saya mendadak dibanjiri kiriman makanan. Kalian pikir saya gak tau ini hasil kerjaan dan atas gagasan siapa ? Harusnya dia paham, saya tidak sebodoh itu. Saya tau, ini pasti perbuatannya ini bukan kalian karena saya tahu, ya.. saya tahu. Tidak perlulah bertanya saya tahu dari mana, mau semua dari kalian sengaja tutup mulut dan menutup-nutupi, saya tahu...semua itu darimana asalnya. 

Bilang sama dia. Masa sih dia tidak paham bagaimana saya ? masa dia pura-pura tidak tahu kalau saya pasti curiga karena bagaimanapun juga ini janggal. Ini semua maksudnya apa ? Ha? Saya tanya, untuk apa? apa ada gunanya ? Ini sebagai bentuk penebusan dari rasa bersalah ? Mendadak takut kehilangan ? Kasihan ? Atau apa ? Hanya sekedar ingin memperhatikan ? Kenapa ? Karena mendadak sayang (lagi) ?! Apa ?. Saya sendiri aja gak bisa temui apa ada gunanya ? bahkan saya enggan, sudah teramat malas.

Berhenti lagi main-main. 

30 Oktober 2012

Disinilah saya sekarang, terdampar di satu waktu dimana kebenaran adalah kenyataan yang menyakitkan, luar biasa menyakitkan. Semuanya kacau balau, berantakan, acak-acakkan, gak karuan. Saya berteriak minta tolong, namun tidak ada satupun yang sanggup menolong, saya kepayahan, sendirian. Saya berpikir keras mengenai hal ini kemudian hal itu, tapi saya gak tau apa yg saya pikirkan, saya gak bisa berpikir tetapi otak saya gak bisa berhenti berpikir, semakin saya berpikir, semakin saya terkapar tak berdaya.

Saya kelelahan, raga dan jiwa, saya kejang-kejang dan terkulai ditembakki asumsi-asumsi saya sendiri mengenai kebenaran yang baru saya ketahui setelah ini berlangsung berbulan-bulan hampir satu tahun belakangan. Saya melihat, tapi saya buta! kerap bergejolak tapi ini apa? Saya baru tahu dua hari kemarin soal apa yang sering membuat perasaan saya tak enak. Harusnya saya dengarkan suara dari diri saya sendiri, bahwa memang ada sesuatu yang tidak benar, bukan berkali diperingatkan berkali-kali pula saya sangkal. Musibah dan apes itu datang sekali, kalau berkali-kali itu tolol namanya. Dan ya, saya tolol.

Sekarang apa ? 

Begini rupanya rasanya "Hidup segan mati tak mau". Dan siapa yang terpuaskan melihat ini ? kamu ? atau siapa ?
Menata hati yang sudah hancur tidaklah mudah, menghidupkan lagi rasa yang mati siapa yang bisa ? Suka tidak suka, mau tidak mau semuanya tidak harus berhenti sampai disini, hidup tetap harus terus, waktu tak pernah mau menunggu. Apa mungkin kamu bersedia bertukar posisi ? Setelah segala kecurangan dan ketidakadilan itu saya yakin kepalamu akan mengangguk mantap. Tapi saya bukan kamu. Kamu tidak akan sanggup jadi saya, kamu tidak akan hidup di posisi saya. Saya tahu itu, saya tahu kamu. Orang lain mungkin hanya iritasi, tapi saya punya luka yang paling parah diantara semua, dan saya bertahan. Harus.

Seorang sahabat baik menyelipkan doa ini untuk saya : 
"Ya Rabb.. aku menjalani semua ini karenaMU. Dan aku yang lemah ini masih mengharapkan kekuatanMu"

Amin.




20 September 2012

Hari ini, apalagi yang kau ributkan pagi-pagi ? ketidak puasan yang datang berkali-kali ? nyeri di hati yang tak kunjung pergi ? atau mendapati bahwa sesungguhnya hidupmu sendiri ?

Saya membuka mata di hari keempat minggu ini mendapati langit keabuan, saya pikir cukup pagi, tapi ini sudah siang. Bagaimana tidak menatap sinis pada langit, yang lagi-lagi memberi harapan palsu dengan kumpulan awan abu-abu yang tak kunjung menumpahkan isinya. Itu abu-abu palsu. Cih.

Memang salah manusia berharap pada langit, semestinya berharap hanya pada Tuhan. Suruh siapa percaya pada hujan, harusnya yakin pada Tuhan. Lantas bagaimana baiknya ? ini bukan soal tau, pahami kemudian praktekkan, ini hanya tentang realistis dan berpikir sederhana.. --aah, mana bisa... mana mungkin, nyatanya hidup semakin rumit ketika kita menjadi dewasa--

Mendung tak berarti hujan, ujar lirik sebuah lagu. Sama halnya dengan tertarik belum tentu terkait. Maka jangan tergoda rayuan fatamorgana. Ah, itu pun nasihat lama... Faktanya manusia senang diiming-imingi, ditawari mimpi, satu dua kali sampa berkali-kali.

Mereka bilang, kuncinya adalah bersyukur. Mengeluh sekali, bersyukurnya lima belas kali, terlebih bila mendapati harapan yang seringnya tak sesuai dengan harapan, bersyukur saja terus, maka Tuhan akan memberi yang (mungkin) bukan harapan tapi kita butuhkan. Bersyukur pada langit yang kerap memberi harapan palsu, bersyukur pada mimpi yang kerap tak terjadi, bersyukur diberi berkah bertemu hari ini.