20 September 2012

Hari ini, apalagi yang kau ributkan pagi-pagi ? ketidak puasan yang datang berkali-kali ? nyeri di hati yang tak kunjung pergi ? atau mendapati bahwa sesungguhnya hidupmu sendiri ?

Saya membuka mata di hari keempat minggu ini mendapati langit keabuan, saya pikir cukup pagi, tapi ini sudah siang. Bagaimana tidak menatap sinis pada langit, yang lagi-lagi memberi harapan palsu dengan kumpulan awan abu-abu yang tak kunjung menumpahkan isinya. Itu abu-abu palsu. Cih.

Memang salah manusia berharap pada langit, semestinya berharap hanya pada Tuhan. Suruh siapa percaya pada hujan, harusnya yakin pada Tuhan. Lantas bagaimana baiknya ? ini bukan soal tau, pahami kemudian praktekkan, ini hanya tentang realistis dan berpikir sederhana.. --aah, mana bisa... mana mungkin, nyatanya hidup semakin rumit ketika kita menjadi dewasa--

Mendung tak berarti hujan, ujar lirik sebuah lagu. Sama halnya dengan tertarik belum tentu terkait. Maka jangan tergoda rayuan fatamorgana. Ah, itu pun nasihat lama... Faktanya manusia senang diiming-imingi, ditawari mimpi, satu dua kali sampa berkali-kali.

Mereka bilang, kuncinya adalah bersyukur. Mengeluh sekali, bersyukurnya lima belas kali, terlebih bila mendapati harapan yang seringnya tak sesuai dengan harapan, bersyukur saja terus, maka Tuhan akan memberi yang (mungkin) bukan harapan tapi kita butuhkan. Bersyukur pada langit yang kerap memberi harapan palsu, bersyukur pada mimpi yang kerap tak terjadi, bersyukur diberi berkah bertemu hari ini.

28 Agustus 2012

10 Agustus 2012

Tetaplah disitu, jangan coba-coba, sekalipun, kemari.

Saya sendiri sedang berusaha keras untuk tetap berada di dalam batas garis, meskipun hasrat hati ingin menyeberang, kesitu, ke tempat kamu berdiri. Ingin sekali, cuma saya gak tau apa yang akan saya lakukan setelahnya ? yang pasti keinginan untuk membuat kamu sakit, tertunduk lemah di hadapan saya sangatlah kuat. Saya sendiri pun ngeri membayangkannya, karena ya.. ya, saya semarah itu!

Kenapa kamu bisa begitu absurd ? banyak hal aneh, janggal, dan saya kepayahan. Buat saya hampir gila dengan cara yang semena-mena, melontarkan makian pun tidak memperbaiki keadaan karena memang tidak ada keadaan yang mesti diperbaiki, seperti yang saya dengar, ini adalah klimaks dan harus disudahi. Mau tidak mau, suka tidak suka.

Pernah seorang teman bilang "i know you can manage a broken heart much better than me. You have been there". Saya diam saja. Yang namanya sakit ya sakit, meskipun berkali-kali mengalami hal yang sama tetap saja rasanya sama. Seperti jika kamu terserang flu, dari awal gejala hingga akhirnya virusnya berlalu, berkali-kali kamu terserang flu, rasanya ya begitu-begitu juga kan..sama saja, mau apa yang jadi penyebabnya, mau berapa lama mesti istirahat di tempat tidur, judulnya sakit ya sakit walaupun kadang sudah tahu apa obatnya. 

Berhenti. 

Saya ingin pulang.