13 Februari 2011

dia tidak pernah semanis itu sebelumnya...

Siaran sudah selesai dari tepat dua jam lalu, pukul tiga sore yang saya nantikan penuh harap itu sudah bergeser menuju angka lima, tadi saya demikian bosannya disini, lelah, ngantuk. Ketika penantian berbuah hasil, malah enggan beranjak. saya sering sekali begitu--mimpi kemudian berharap, saat sedikit lagi mendekati kenyataan saya malah enggan bergerak. sudah keburu nyaman, katanya.

Sore ini atmosfernya menyenangkan, matahari masih eksis tapi tidak gahar, hangat...dunia jadi tampak begitu cantik. Nggak ngerti apa saya berkhayal atau kelewat ngantuk, seperti mencium aroma ekstrak lemon disini, di sekitar-sekitar sini, serius! harumnya menenangkan hehe..
Saya nyaman dengan sore ini, ingin menyimpannya untuk membuat hari ini menjadi sempurna, cantik seperti yg saya tadi bilang. aih...saya menyukai sore di kota ini (akhirnya...).

Ketika termangu menatap semburat oranye dari luar jendela tempat saya duduk sekarang, saya ingat dia. mengingat soal semalam, ada saya dan dia, cuma kami (jd senyum sendiri :p). Seperti biasa, selepas pulang kerja, dia selalu menyempatkan diri mampir ke rumah saya, betapapun lelahnya, dengan bau asem keringat bercampur sisa-sisa aroma parfum yg dia pakai, wajah kuyu, tubuh lengket, dia tetap menyempatkan menengok saya, is he quite nice don't you think ?
Begitu jg dengan semalam, dia datang seperti biasanya, saya sudah sangat mengantuk, lelah kebosanan bermain-main dengan waktu seharian yg tak kunjung pulang, kemarin waktu bergerak lambat sekali, sangat lambat, saya bosan menghadapinya sendirian, itu pun saya keluhkan kepadanya melalui pesan singkat hehe..dasar manja! merajuk ingin ditemani, padahal dia pergi bukan sedang main-main.

Ajakan makan malam di pukul 11.32 pm, saya nggak bisa protes lantaran takut berat badan naik semena-mena, faktanya perut saya belum diisi apa-apa lagi sejak siang tadi. saya lapar. Dia memburu-buru saya untuk bersiap-siap, sedangkan saya takut beranjak dari posisi tiduran di kasur. Dua jam sebelumnya saya sudah merelakan nasib rambut ikal saya untuk dipotong agak pendek di sebuah salon ecek-ecek *maaf (harga murah, hasil naudzubillah...jelek!). Dia terus mengomel panjang-pendek (khas dia sekali) yg membuat saya risih dan akhirnya dengan terpaksa menghadap dia dgn rambut baru yg aneh.

Aaaargh...saya sebal setengah mati, tau begini saya pangkas amat pendek sekalian, drpd nggak jelas bentuknya. Tapi dia, dengan tersenyum-saya jaraaang sekali melihat dia tersenyum tulus seperti itu ke saya, ini langka hehe- bilang, "it doesn't matter, bagus kok rambutnya. saya juga nggak pernah protes soal penampilan kamu kan? mau apa aja bagus, mau gimana jg bagus" ujarnya-entah, mungkin dia nggak mau saya lama-lama merajuk karena dia sudah keburu ingin makan hehe.

Tapi saya senang, senaaang sekali! Dia tidak pernah semanis itu sebelumnya :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar